Impact Technique : Penggunaan Video Kaset dalam Konseling Anak

Tulisan ini merupakan pengalaman saya dalam melakukan konseling di sekolah dan tulisan ini tidak bertujuan untuk mengajarkan akan tetapi berbagi pengalaman yang semoga teknik ini bisa digunakan dalam setting masalah yang lain.


Deskripsi Kasus
Ditha (nama samaran) adalah siswa kelas V SD yang sering menangis jika tidak di antar oleh ibunya ke sekolah. Ketika Ditha sudah di kelas dia akan senang untuk belajar dengan teman-temannya akan tetapi ibunya tidak boleh meninggalkan dia di kelas. Dengan kata lain selama proses pembelajaran, ibunya harus duduk menemani terus Ditha belajar. Kadang-kadang ibunya harus menunggu sampai waktu istirahat, baru beliau bisa pergi meninggalkan Ditha.
Setiap kali berangkat ke sekolah, Ibunya harus mengantarkan Ditha masuk ke kelas dan menemaninya. Fakta lain, informasi dari guru-guru Ditha mengatakan bahwa Ditha sangat menikmati ketika sudah belajar di kelas dan tidak pernah nangis ataupun mengganggu teman-temannya. Ditha merupakan siswa pindahan dari sebuah Sekolah Dasar di Surabaya dan baru sekitar 5 bulan di sekolah yang barunya ini. Jika dianalisis, pertama kali saya berasumsi bahwa Ditha ini memiliki masalah penyesuaian diri dengan lingkungan baru akan tetapi jika dilihat dari aktivitas dia di sekolah dan interaksi dengan teman-temannya, dia tidak mengalami kesusahan. Hanya saja masalah yang seringkali muncul adalah saat dia berangkat ke sekolah, setiap kali sudah ada di sekolah dia pasti akan meminta ibunya untuk menunggu di kelas. Namun satu fenomena lain adalah dia tidak merasa malu dengan apa yang dilakukannya. Saat saya pertama kali bertemu dengan Ditha, saya juga merasa terheran-heran karena dia justru termasuk anak yang bisa beradaptasi bahkan bisa langsung bermain dan bercanda dengan saya setelah diperkenalkan oleh ibunya.
Perilaku Ditha ini merupakan satu bentuk perilaku yang khas dan saya berasumsi bahwa Ditha mengalami masalah tentang ketergantungan yang tinggi sama ibu. Namun, disisi lain ternyata Ditha pernah mengalami pola asuh yang kurang tepat dari ayahnya. Informasi dari Guru wali kelasnya ditemukan bahwa Ditha pernah mengalami pola didik seperti dipukul oleh ayahnya dan dipermainkan oleh kakak-kakanya sehingga interaksi dia di keluarga hanya dekat dengan Ibu.

Dibawah ini merupakan bagian dari cupikan konseling dengan menggunakan Impact Technique melalui Video Kaset

Konselor : Ditha, bapak ingin bermain dengan ditha. maukah ditha main dengan bapak ?
Ditha : main apa ?

Konselor : Lihat ini. bapak punya Video kaset dan video kaset ini merekam apa yang telah 
                  Ditha lakukan selama satu minggu ke belakang. Bagaimana kegiatan Ditha di 
                  sekolah seminggu kemarin ? (Sambil konselor menunjukkan Video kaset dan 
                  menaruhnya di tangan Ditha)
Ditha       : Ditha belajar di sekolah bersama Daniah,

Konselor : Ditha senang belajar di sekolah ?
Ditha      : ya, senang sekali.

Konselor : Kalau dalam rekaman video kaset ini bagaimana dengan ayah dan ibu ditha ?
Ditha      : Ditha diantar ibu ke sekolah.

Konselor : Terus ?
Ditha      : Ibu nemenin ditha di kelas.

Konselor : terus apa yang terjadi kalau misalkan ditha tidak ditemenin ibu ke sekolah ?
Ditha      : Ditha nangis

Konselor : lho..Apa yang membuat ditha menangis ?
Ditha      : gak tahu...

Konselor : Ditha tahu tidak bagaimana perasaan ibu ditha ketika harus nunggu ditha belajar di 
                   kelas ?
Ditha      : Ya, ibu pasti mau nemenin ditha

Konselor : Kalau misalkan ditha masih suka di anterin dan nangis di sekolah. menurut ditha 
                  bagaimana perasaan ibu ditha
Ditha      : sedih pastinya..

Konselor : terus Ditha mau gak untuk ke sekolah sendiri supaya ibu ditha tidak sedih lagi ? 
                  (Konselor mencoba untuk melakukan sugesti secara langsung)
Ditha      : gak mau..pokoknya ibu musti nemenin ditha ke sekolah.. (konseli sambil merengek)

Konselor : Ditha, bapak punya kertas ini. coba pegang. haluskan ya ?
Ditha      : ya (sambil memegang kertas yang diberikan oleh konselor)

Konselor : jika kertas ini diumpamakan sebagai perasaan ibu ditha. maka, kertas halus ini 
                  adalah perasaan ibu ditha yang gembira melihat ditha yang mandiri. tapi jika ditha 
                  masih sering menangis dan harus ditungguin di kelas maka kertasnya akan menjadi 
                  seperti ini (Konselor sambil meremukkan kertas dan membuangnya). DItha mau 
                  perasaan ibu ditha menjadi seperti itu ?
Ditha      : Gak mau (langsung menangis dan meninggalkan ruangan)

Disinilah menariknya konseling, rapport yang dibangun oleh konselor harus bisa dipertahankan sampai tujuan dari sesi konseling tercapai. Saat ditha menangis, jujur saya bingung harus dengan cara apa supaya menarik perhatian dia. Akhirnya saya biarkan ditha menangis beberapa saat dipelukan ibunya dan teringat sebuah hobi menggambar yang sangat dia sukai, akhirnya saya mengajak dia untuk menggambar apapun. Dan akhirnya ditha bisa diajak komunikasi kembali sambil menggambar. Berikut cuplikan konseling setelah ditha menangis

Konselor : Wah, ditha bagus sekali ya menggambarnya
Ditha      : (hanya tersenyum)

Konselor : Ditha mau main lagi dengan bapak ? kita lanjutkan lagi main video kasetnya.
Ditha      : ya (duduk dikursi)

Konselor : Ditha, sekarang bapak punya dua video kaset. Kaset yang pertama yang ini 
                   merupakan video kaset yang merekam perilaku ditha selama seminggu kemarin. 
                  Tapi lihat ini bapak punya satu video kaset lain akan tetapi dalam kaset ini direkam 
                  perilaku ditha yang baik, selalu membuat bangga ibu dan bapaknya, berani pergi ke 
                  sekolah sendiri dan tidak menangis di kelas serta tidak perlu ditunggu. luar biasanya 
                  ditha dalam rekaman ini sangat percaya diri dan berprestasi sehingga disenangi 
                  oleh teman-temannya di kelas. Oke, ditha mau memilih video kaset yang mana ?  
                 (sambil memberikan kedua kaset itu di kedua tangan ditha)
Ditha      : Ditha pilih yang ini (sambil mengambil video kaset yang kedua. intervensi yang 
                 konselor lakukan adalah melakukan sugesti secara tidak langsung melalui kaset dan 
                 ini merupakan struktur dari Ericksonian Hypnosis)

Konselor : Oke, menurut ditha apa yang terjadi dengan kegiata ditha di sekolah dalam rekaman itu ?
Ditha      : Ditha berani untuk pergi ke sekolah sendiri dan tidak perlu ditunggu lagi oleh ibu

Konselor : terus bagaimana perasaan ibu dalam kaset ini ?
Ditha      : Ibu senang karena melihat ditha bisa pergi ke sekolah sendiri

Konselor : apakah ditha akan nangis lagi ketika ditinggal ibu ?
Ditha       : tidak

Konselor : Terus apa yang terjadi dengan teman-teman ditha di kelas ?
Ditha      : mereka senang belajar dengan ditha

Konselor : Oke, ditha bagus sekali. dan saat ini ditha bisa bawa video kaset ini kemanapun 
                  dan dimanapun ditha berada akan mengingatkan ditha akan rekaman bahwa ditha 
                  adalah anak yang baik, berani pergi ke sekolah sendiri dan tidak perlu ditunggu ibu, 
                  percaya diri dan berprestasi sehingga disenangi teman-temannya. Ditha bisa
                  membawa kemanapun video kaset ini. Oke. (Post hypnotic suggestion dilakukan 
                  untuk menanam anchor supaya ditha akan senantiasa ingat akan sugesti yang 
                  diterapkan secara tidak langsung melalui video kaset)

Sesi konseling pun diakhiri dan video kaset itu bisa menjadi sarana untuk mendapatkan informasi selama satu minggu ke belakang yang bisa dilakukan dalam sesi selanjutnya. Teknik yang saya praktekan ini merupakan bagian dari teknik Impact Therapy yang sangat luar biasa dan mudah sekali untuk dipraktekkan di sekolah.

Semoga Bermanfaat !!!

Reviews:

Posting Komentar

Pelatihan Konseling & Hipnoterapi Indonesia I Klinik Hipnoterapi & Konseling © 2014 - Designed by Templateism.com, Plugins By MyBloggerLab.com

Contact us

Diberdayakan oleh Blogger.